Terkadang kita dibuat suntuk oleh sesuatu yang sebenarnya kita sukai. Apalagi kalau yang kita sukai udah ngejar-ngejar kita dengan pola dan kecepatan yang monoton. Ambil contoh, misalnya, MT atau NQ yang hobinya “ngoprek” komputer. Boleh dikata buat mereka berdua, nggak apa-apa gak makan seharian, atau gak ketemu orang-orang tercinta untuk waktu yang lama (NQ orang-orang tercinta siapa ya, kalo dulu ada cecep, sekarang [setelah cecep dikawinin] siapa ya ….. MT kasih tahu dong!), asal bisa ketemu sama komputer, itu udah cukup menenangkan situasi psikologis mereka. (mereka berdua kalo sudah di depan komputer sampe lupa makan [emang nggak ada yang dimakan heheheh]). Itu karena kegiatan “ngoprek” mereka dilandasi hobi.
Tetapi aku berani bertaruh bahwa kegiatan “ngoprek” komputer itu tidak selalu menyenangkan, apalgi exciting, jika MT dan NQ bekerja di sebuah perusahaan komputer. Karena apa? (cuek aza hehehehehe). Disadari atau tidak, telah terjadi transformasi psikologis dari kegiatan yang didasari hobi, tak terikat target, dan deadline, dan tentu saja sarat dengan unsur fun, menjadi kegiatan yang didasari kewajiban, terikat target, dan bersifat rutin. Jika sudah seperti ini, exciting menjadi barang yang sangat mahal.
Atas dasar asumsi tersebut, ada seorang teman yang berseloroh: “Kalo lo mau shalat yang khusu, jangan anggap ia sebagai kewajiban, tapi kerjakan sebagai hobi. Seloroh temanku itu serta merta aku timpali. “Kalo sebagai hobi, berarti bisa dikerjakan kapan aza dong tergantung mood, trus frekuensinya juga suka-suka kita dong!” Itulah repotnya. Kegiatan yang didasari hobi mengandaikan ketakterikatan pada waktu yang terjadwal. Penggerak utamanya adalah mood dan kesukaan. Sedangkan kewajiban mengandaikan keterikatan pada waktu dan target. Mood dan kesukaan pun terkadang harus dipersetankan. So, suka atau tidak suka, sebuah kewajiban tetap harus dilakukan jika waktunya sudah tiba atau deadline datang menggencet. Tidak jarang, kegiatan yang sebenarnya sangat kita
sukai itu, karena sudah menjadi pekerjaan dan rutinitas, kita lakukan
dengan TERPAKSA!!!
Situasi semacam inilah yang sedang aku alami sekarang. Sejak SMP, di samping mancing, hobiku adalah membaca. Membaca apa saja; fiksi dan nonfiksi; bacaan suci sampai bacaan jorok; buku-buku berat dan serius sampai buku-buku ringan dan menghibur. Singkat kata, tak ada hari yang terlewat tanpa membaca. Ada kenikmatan yang tak bisa ditukar dengan apa pun ketika sedang membaca. (Itulah sebabnya aku sering dimarahi orang tua, terutama enyak, karena sering lalai mengerjakan pekerjaan rumah.)
Kenikmatan dalam membaca ini terus berlangsung hingga tahun 2003, tepatnya satu tahun setelah aku bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan besar di Bandung. Setelah satu tahun bekerja sebagai editor, di mana kegiatan membaca menjadi pekerjaan, aku mulai kehilangan keasyikan dalam membaca, dan ini mencapai puncaknya ketika pada suatu ketika aku begitu muak melihat teks. Aku baru sadar bahwa telah terjadi pergeseran makna membaca dalam diriku. Hingga saat ini, membaca masih terus aku lakukan, karena itulah pekerjaan dan mata pencarianku sekarang ini. Tetapi kenikmatan itu …………… belum bisa kutemukan lagi!!
ini salah satu contoh nikmat membaca (mt)
Kalau sudah begini aku jadi ngiri sama Iwan Fals yang bisa bilang:
Sesuatu yang hilang
Sudah kita temukan
Walau mimpi ternyata
Kata hati nyatanya
(Bener nggak Te, liriknya?)
Ciputat, 1 Juni 2006
ditulis oleh CR (Coople Ramadhan)


