t

Memaknai Peristiwa

In Catatan Lepas on Juni 26, 2006 oleh lingkaran

Sesungguhnya keberadaan setiap manusia adalah untuk mencapai sebuah keseimbangan tanpa memandang apakah keadaan itu disenangi atau tidak, mudah di dapat ataupun sulit.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (QS Al-Hadid [57] : 23)

Ketahuilah, bahwa Allah Mahaadil dalam melimpahkan eksistensi kepada semua mahluk dan bahwa Dialah Tuhan Yang Mahaadil dalam menganugerahkan pola perilaku dan sifat-sifat tertentu kepada mahluk-mahluk itu berdasarkan pengetahuan yang pasti mengenai kemampuan esensial dan daya terima yang secara inheren ada pada masing-masing mereka. Hal ini terjadi, karena setiap mahluk bereksistensi –apakah dia ditempatkan di dunia fenomenal ataupun tidak- telah memiliki kekhususan dan hakikat tersendiri di dalam ilmu Tuhan, sebelum dia betul-betul muncul dalam bentuk eksistensi lahiriah. Seandainya Tuhan melimpahkan eksistensi yang bertentangan dengan hakikat mahluk, tentulah Tuhan salah atau tidak adil. Perbuatan seperti itu tidaklah mungkin berasal dari Tuhan karena Tuhanlah Yang Mahaadil di dalam perbuatan-perbuatan dan kalam-Nya serta seimbang dalam hal melimpahkan nikmat-Nya kepada segala sesuatu.

“Dan kalau Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya niscaya mereka melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya”. ( Qs 42 : 27 )

“Tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa-apa (yang ada) di antara keduanya melainkan dengan benar dan waktu yang ditentukan”. (Qs 46 : 3 )

Imam Ali kw. berkata :

Ketahuilah dengan ilmu yakin (‘ilm al-yaqin ), bahwa Allah tidaklah membebankan kepada hamba melebihi daripada apa yang telah ditentukan baginya di dalam kebijaksanaan-Nya, terlepas dari intensitas usaha yang dilakukan, perjuangan, dan kepintarannya. Selanjutnya, Dia tidaklah mencegah seorang hamba meraih apa yang telah ditentukan baginya dalam kebijaksanaan-Nya, terlepas dari kelemahan ataupun ketidakpintaran hamba itu. Siapa saja yang menyadari hal ini dan berbuat sesuai dengan ilmu-Nya, akan termasuk orang-orang yang menikmati kesenangan dan manfaat yang besar. Sedangkan orang-orang yang mengabaikan jalan ini, dalam hal perbuatan ataupun ragu-ragu mengenai keabsahannya, maka ia akan termasuk orang-orang yang senantiasa mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri. Seringkali terjadi bahwa seseorang dilimpahi karunia yang terus menerus, dan sering pula yang lainnya ditimpa cobaan dan beban berat. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mendapatkan nikmat Allah, tingkatkanlah rasa terima kasihmu, janganlah tergesa-gesa, dan merasa cukuplah ketika rezekimu mendekati akhirnya.

Oleh karena itu wajib bagi Allah untuk memberi eksistensi kepada setiap mahluk dalam satu cara yang bersesuaian denga keadaan diri mahluk itu, tidak menambah ataupun mengurangi ukuran eksistensi khusus tersebut. Inilah keadilan yang hakiki, karena keadilan adalah penempatan segala sesuatu pada tempatnya yang benar.

“Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing” (QS Al-Isra [17] : 84)

“Tuhan kamu (Allah) berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu”. ( QS 40 : 60 )

Firman ini berarti bahwa setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan lahiriah dan bentuk fisiknya, dan pada gilirannya hal ini bersesuaian dengan keadaan batiniah dan bentuk spiritualnya. Seiring dengan itu, Nabi Daud as. bertanya kepada Tuhannya : “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menciptakan mahluk?” Allah menjawab : “Karena hakikat kebenaran yang ditemukan mahluk ada di dalam dirinya”. Hal ini berarti bahwa terdapat keadaan yang berbeda-beda dalam hal daya terima dan kesiapan mereka. Setelah memahami hal ini, bisa dilihat mengapa tidak seorang pun dapat meninggikan suaranya sebagai sikap penolakan terhadap Allah dan tidak seorang pun dapat menuntut untuk mengetahui mengapa ia diciptakan dalam bentuk tertentu. Setiap mahluk mengetahui bahwa Allah sanggup menjawab melalui lidah ilham spiritual sebagai berikut :

Aku tidak melimpahkan eksistensi kepadamu kecuali dalam satu ukuran yang sesuai dengan daya penerimaanmu serta kesiapanmu dan sesuai dengan esensi dan substansimu, dan bukanlah apa yang sesuai dengan diri-Ku. Akulah Pelaku dan engkaulah penerima, dan daya penerimaan merupakan bagian dari diri orang yang menerima, tidak pada diri Sang Pelaku. Selanjutnya, eksistensimu sesuai dengan esensi dan daya penerimaanmu. Oleh karena itu, penolakanmu berarti penolakan terhadap daya penerimaan dan kesiapanmu sendiri, tidak terhadap-Ku, karena Sang Pelaku tidak mempengaruhi orang yang menerima, pengaruhnya hanya pada ukuran daya penerimaannya.

Kini jika kamu menyadari bahwa Aku Maha Mengetahui segala halmu, (harus diingat bahwa) ilmu tidaklah berlaku pada apa yang diketahui sampai yang diketahui itu benar-benar terjadi. Di samping itu kesesuaian (konformitas) merupakan sesuatu yang wajib ada di dalam hubungan antara pengetahuan dan obyek ilmu –karena ilmu bersifat mengikuti apa yang diketahui. Jadi, sesuatu yang mengikuti tidaklah mengetahui hal yang mendahuluinya selain kesadarannya tentang hal itu, yakni dalam hal apa dia diciptakan.

Selanjutnya, Akulah Yang Mahabijaksana, Yang Mahaadil, Yang Maha Mengetahui, dan Yang Mahasempurna, tidak satu pun yang berasal dariku kecuali dalam satu aspek yang bersesuaian. Firman-Ku, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai (QS Al-Anbiya [21] : 23) –memperlihatkan bahwa Aku-lah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana dan bahwa perbuatan-perbuatan Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana tidaklah perlu dipertanyakan. Sebaliknya, merekalah yang dipertanyakan karena kebodohan-nya tentang kebenaran dan ketidakmampuan untuk menempatkan segala sesuatu di tempat yang benar. Seandainya kamu, seperti Aku, mengetahui tentang hakikat segala sesuatu, baik yang telah lalu maupun yang sekarang, tentulah kamu tidak akan menjadi orang-orang yang ditanya tentang apa yang mereka lakukan. Adapun Aku, Akulah Yang Maha Mengetahui, Yang Mahabijaksana, Yang Mahasempurna. Sepenuhnya tidaklah pantas jika pertanyaan-pertanyaan diajukan sehubungan dengan perbuatan-perbuatan-Ku, karena Aku tidak melakukan apa pun kecuali bersesuaian dengan ilmu dan kebijaksanaan-Ku serta dalam cara yang setepat-tepatnya. Oleh karena itulah Aku berfirman, “ … tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan terdapat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Saba [34] : 3). Itulah titah dari Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui.

Date: 26 Mar 2006 at 4:08AM GMT 0 Replies.
FANA (2 dari 3 tulisan)
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan bagian pertama yang membicarakan fana. Penekanannya hanya kepada “Bagaimana keadaan fana yang digambarkan dalam bentuk ungkapan kata-kata”. Bukan membahas cara untuk mencapai keadaan tersebut. Itu pun sangatlah sulit diungkapkan. Sama sulitnya –meskipun ini jangan diartikan sebagai perbandingan keadaan- untuk menjelaskan warna “biru” kepada seseorang yang buta matanya
sejak lahir. Bagian kedua ini pun belum menyentuh permasalahan inti. Menurut saya, memang harus begini uraiannya.

Buat saudara Naufal, ternyata Anda harus memperpanjang kesabaran Anda. Karena Anda memang ahlinya (he..he). Karena itu alihkan permintaan Anda saat berdo’a, jangan minta kesabaran terus …, sebab Anda akan diberi-Nya cobaan terus. Mintalah agar Allah menyelesaikan segala persoalan Anda dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya. Amin.
(Ini bukan nasehat, tapi berbagi resép)

* * *

Kapasitas akal mampu mengantarkan seseorang kepada pemahaman mengenai syariat. Akal sanggup memahami jalan yang dibukakan Allah, yang membentang di hadapan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Tetapi bagaimanapun juga akal yang dibimbing oleh cahaya syariat pada akhirnya tunduk dihadapan petunjuk syariat itu sendiri, “Sesungguhnya Dia tak dapat dijangkau oleh pemahaman”. Maksud “pemahaman” di sini adalah pemahaman yang diperoleh melalui akal.

Pendengaran dan penglihatan adalah sarana indera yang dimiliki manusia, sebagai sarana yang memberikan masukan bagi akal untuk memperoleh ilmu atau pengetahuan. Sedang akal adalah instrumen jiwa (nafs), dimana lewat pengetahuan yang dicerapnya, akal mampu memberi pengaruh bagi jiwa mencapai kesadarannya. Jiwa manusia dapat mencapai kesadarannya, bahwa ia dapat dekat pada kebajikan dan dilindungi dari penyimpangan dengan cara mematuhi petunjuk yang terdapat dalam syariat.

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Surat Al-Imran [3] : 164)

Akal dapat memahami pengajaran tentang mana yang baik dan yang buruk; mana yang boleh dan yang tidak; perintah dan larangan; dan dengan melakukan penelitian, akal dapat mengungkap rahasia ilmu Allah yang berhubungan dengan kehidupan praktis di dunia ini, dan selanjutnya mengarahkan jiwa kepada kesadaran bahwa untuk memperoleh “hikmah” dari-Nya, ia harus melanjutkan perjalanannya dengan mengerahkan kemampuan “instrumen” lain yang dimilikinya. Dengan instrumen itulah jiwa dapat memperoleh kekuatan untuk membersihkan dirinya, karena hanya dengan kebersihan jiwalah ia dapat memperoleh limpahan ilmu atau pengetahuan dari Allah, yang pada akhirnya akan menghantarkannya kepada pengetahuan mengenai hakikat Ilahi.

Para ahli makrifat menyebutkan, bahwa “ilmu adalah hijab yang paling besar” sehingga seseorang tidak boleh berlama-lama dalam kedudukan (maqam) ini. Yang dimaksud “ilmu” disini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Hijab ini adalah hijab yang khas bagi manusia yang mampu ia ketahui secara rasional, sehingga segala sesuatu yang telah ia ketahui dengan akalnya, harus segera ia luluhkan, ia torehkan pada instrumen jiwa yang lain. Instrumen jiwa yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mencapai jenis pengetahuan lain yang tak dapat dijangkau oleh pemahaman akal. Dengan begitu seseorang akan dapat melepaskan dirinya dari semua ikatan atau hijab ilmu yang diperolehnya.

Kalau pendengaran dan penglihatan adalah sarana bagi akal untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, maka instrumen jiwa lainnya yang memiliki kapasitas untuk memperoleh ilmu atau hikmah adalah “hati”. Al-Qur’an menggunakan tiga istilah yang berbeda yang menunjukkan tentang hati, yaitu al fuâd, al qalb, dan al shudr. Ketiganya merupakan istilah yang berbeda tetapi mengacu pada satu hakikat, yaitu hakikat dasar manusia, hati. Masing-masing menunjukkan perbedaan “karakter” sesuai dengan perbedaan keadaan hati. Dalam tulisan ini cukuplah untuk sementara kita menggunakan istilah hati.

“Dan Allah mengeluarkan kalian dari keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, semoga kalian bersyukur”. (Surat An-Nahl [16] : 78)

Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa sarana bagi jiwa untuk memperoleh pengetahuan sebagai bekal kesempurnaannya adalah melalui pendengaran, penglihatan, dan hati. Dan orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang menggunakan sarana tersebut untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mencapai pemahaman mengenai hakikat penciptaannya. Dengan demikian akal bukanlah satu-satunya cara atau sarana untuk mengetahui sesuatu. Dalam tasawuf atau di kalangan ahli makrifat, sebagaimana kita maklum, seseorang bisa mengetahui sesuatu dengan tidak melalui akal, tidak pula lewat penginderaan, tetapi lewat cara yang disebut “riyadhah”, pendekatan diri kepada Allah, dimana jiwa mengerahkan seluruh kemampuan dan “potensi positif” hati dengan kedisiplinan dan ke”ajeg”an (istiqomah) untuk memperoleh limpahan karunia sesuai kehendak-Nya.

Menurut ahli makrifat, hati adalah tempat perubahan dan pasang surut yang konstan. Di dalam hati terjadi pertempuran antara dorongan hawa nafsu (hawâ) yang menjerembabkan jiwa (nafs) ke dalam kehinaan dengan tarikan ruh yang membawa jiwa kepada kesucian. Hubungan saling mempengaruhi antara jiwa dengan hawa nafsu adalah melalui hati, sebagaimana hubungan antara jiwa dengan limpahan manifestasi Ilahiah (rûh) juga melalui hati. Ini berarti limpahan ruh Ilahi ke dalam hati akan mempengaruhi aktivitas jiwa dan perwujudan sifat-sifat terpuji dan kesuciannya, dan sebaliknya kesucian jiwa, tidak akan membiarkan sedikitpun “ruang” di dalam hati disusupi oleh hawa nafsu. Jiwa akan selalu memperkuat hati dengan selalu membukanya untuk menerima limpahan ruh dan pengajaran dari-Nya.

“Dan segala yang Kami sampaikan kepadamu dari cerita Rasul-Rasul yang dengannya Kami kuatkan hatimu, dan dalam cerita itu telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (Surat Huud [11] : 120)

Demikian pula dengan jiwa yang menampakkan aktivitas dan perwujudan sifat-sifat yang rendah adalah cermin dari pengaruh hati yang diisi dan ditundukkan oleh hawa nafsu, dan sebaliknya hati yang dikuasai hawa nafsu akan menutup dirinya dari cahaya petunjuk, karena jiwa yang selalu mengajaknya kepada kegelapan.

“Dan mereka berkata, “Hati kami tertutup dari apa yang kamu seru kami kepada-Nya … “ (Surat Fushshilat [41] : 5)

Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa hati adalah instrumen jiwa yang sanggup mencapai pengetahuan dan limpahan ruh Ilahi, sepanjang ia –hanya selalu- membuka dirinya untuk menerima pancaran cahaya-Nya. Ketika cahaya ini masuk ke dalam hati, maka ia akan menghilangkan tabir yang menutupi mata batin, sehingga pengetahuan tentang Allah (makrifat) –Sang Sumber Ilmu- dapat singgah di dalam hati. Para ahli makrifat menyebut keadaan hati seperti ini dengan istilah kasyf (penyingkapan). Dengan rahmat-Nya yang tak terbatas, Allah melimpahkan kepada hamba-Nya pengungkapan diri-Nya (tajalli) ke dalam hati hamba-Nya.

Ada sebuah hadis qudsi yang menyatakan, “Meskipun langit dan bumi tidak sanggup memuat-Nya, tapi hati manusia -hamba-Nya- justru sanggup memuat-Nya”. Hati semacam ini adalah hati seorang hamba yang dipenuhi oleh berbagai hakikat Ilahiah, manifestasi Ilahiah dalam bentuk penyingkapan Nama-Nama-Nya dan Sifat-Sifat-Nya. Pengungkapan diri-Nya ke dalam hati hamba-Nya, merupakan anugerah, yang Allah limpahkan kepada manusia agar Ia dapat disaksikan. Ahli makrifat mengatakan bahwa terjadi berbagai penyingkapan yang merasuk ke dalam hati. Atas kehendak-Nya, Allah mengungkapkan diri-Nya lewat satu Nama Keindahan-Nya yang akan menimbulkan kemanisan dan kesenangan, atau lewat salah satu Nama Keagungan-Nya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan. Singkatnya, karena Dia adalah Yang Maha Takterbatas, maka penyingkapan ini tidak pernah berulang secara sama dan tidak pula pernah berakhir. Setiap orang adalah unik, oleh karena itu masing-masing penyingkapan juga unik. Jadi tidak ada dua orang yang merasakan pengalaman tajalli yang sama. Hanyalah yang “merasakan” yang mengetahuinya, dan mereka yang “tidak merasakan” tidak bakal mengetahui. Tajalli melampaui ungkapan kata-kata.

Namun demikian –bagaimana pun- penyaksian hati ini tetaplah menunjukkan bahwa “yang melihat”, “Yang Dilihat”, dan “cahaya yang menghubungkan” keduanya, merupakan tiga hal yang berbeda dan melahirkan keberagaman. Padahal “Penyaksian di dalam ke –Esa- an-Nya” tidak mengizinkan keragaman seperti itu. Jadi mesti ada “langkah pelampauan” sampai pada satu titik yang dengannya tauhid (penyatuan) bisa dicapai. Karena itu, titik tauhid (sejati) ini hanya bisa dicapai melalui penghancuran (fana’i) “diri yang mengetahui” di di dalam “Dzat yang diketahui”. ( Sampai disini dulu, dan bersambung pada tulisan bagian ketiga atau yang terakhir.)

ditulis oleh Oeban

2 Tanggapan ke “Memaknai Peristiwa”

  1. [...] Ternyata benar. Setelah rambut kepalaku diperiksa, ada tiga helai rambut yang beruban. Aku minta dicabuti satu. Yang dua biarkan saja seperti adanya. Bagaimanapun, uban ini sangat berarti buatku. Hm… jadi inget my Oeban. [...]

  2. menunggu lanjutannya..alias tulisan bagian ketiga…ASAP

Tinggalkan Balasan