Ada beberapa hal yang mengganjal perasaanku dalam obrolan Sabtu kemarin. Temanku gelisah. Ia menceritakan kalau beberapa sahabat seperjuangannya kini lebih sering membicarakan peluang bisnis ketimbang dakwah. Kebanyakan peluang yang ditawarkan adalah semacam usaha pencarian uang melalui MLM (multilevel marketing) atau sejenis monye (salah ketik, maksudnya money) game.
Ikhwan yang satu menawarkan obat mujarab yang hanya dapat dibeli dengan cara menjadi member. Hampir 100 ribu syarat untuk jadi member. Tapi temanku memang dasarnya tak suka dengan bisnis begituan. Akhirnya dia menolak dengan cara sopan dan santun. Yang lainnya menawarkan Alat Hebat untuk mengirit bahan bakar kendaraan dan penghemat pemakaian listrik dari PLN. Iming-imingnya bahkan bisa mendapat hadiah umroh. Lain hari, dia mendapat penawaran, presentasi, bujukan, dan iming-iming tentang bisnis pulsa hape, bahan kebutuhan pokok, sabun, dan jenis suplemen bahkan obat mujarab lainnya. Semuanya sama : MLM atau Semi MLM, atau apalah jaketnya
Yang membuatku gelisah adalah : Telah terjadi kecenderungan untuk memanfaatkan jaringan dakwah sebagai lahan bisnis. Ini sangat berbeda dengan para da’i jadoel yang menyebarkan Islam. Mereka memanfaatkan jaringan bisnis sebagai lahan dakwah.


