Entah kenapa beberapa hari ini aku merindukan suasana ketika masih bekerja bersama teman-teman di media baca. Itu pernah terjadi waktu tahun 1994-1997. Jadi udah lama banget.
Penggagas awal media baca Refleksi versi fotokopian Oeban. Waktu aku baru pulang ke tempat kost, ada pesan oeban di whiteboard, “MT, gimana kalo kita bikin beginian!” lalu ada goresan tanda panah menuju sebuah prototipe media baca REFLEKSI yang menempel di tembok. Aku langsung menelpon Oeban. Maka esok harinya, terbitlah edisi perdana REFLEKSI yang didukung oleh teman-teman di Komunitas Kaum Marginal.
Setahun setelah Refleksi versi fotocopy terbit (harganya cuma gope, man!), aku dan Oeban mengubah formatnya menjadi majalah mini seperti jurnal gitu deh. Karena pengerjaannya harus lebih serius, maka NQ harus bergabung. NQ paling sip buat menyelesaikan pekerjaan yang ga bisa ditangani oleh manusia biasa (kwekeke…). Tim redaksi juga dibentuk lebih serius. Kalau dulu cuma beduaan sama Oeban, pada Refleksi versi baru ini teman-teman pada Komunitas BIJAK pimpinan Billy Bijak bergabung sebagai dewan redaksi. Karena itu bisa dibilang ini adalah Refleksi versi “BIJAK”
Ternyata permintaan Refleksi di kalangan mahasiswa dan beberapa undur-undur (orang-orang underground) setiap bulannya meningkat. Wah, ini di luar perencanaan. Sebenarnya aku dan Oeban bikin Refleksi hanya karena hobi saja, nggak serius-serius banget. Tapi karena demand teman-teman, akhirnya berlanjut terus hingga terbit Refleksi versi “Bengkel”. Di sebut demikian karena aku, Oeban, dan NQ perlu modal untuk mencetak lebih banyak dan mendistribusikan lebih tepat. Terus terang saja, kami hanya doyan bikin majalah, tapi malas menjualnya, jadilah orang lain yang menjual. Disengaja atau tidak, jaringan distribusi Refleksi berkembang dengan karakteristiknya sendiri. Mulai Refleksi versi Bengkel, bergabunglah 3 orang pengangguran intelek, Coople, Alan, dan Isevanovic. Saat itulah aku minta Coople yang jadi pemimpin redaksi karena memang dia punya kapasitas untuk itu.
Refleksi versi “Bengkel” hanya bertahan 6 bulan. Banyak orang yang suka dan tidak sedikit yang merasa tak nyaman. Tekanan demi tekanan dialami tim redaksi. Maklum, era jadul, bikin media cetak tak sebebas sekarang. Bahkan tidak jarang kita diintip intel. Apalagi kalo media cetak yang kita buat rada berbau semangat kembali menyeriusi agama. Realitas itu dialami oleh semua orang yang bergelut dalam dunia jurnalistik era Orba. Namun lucunya, tekanan yang nibanin redaksi Refleksi bukan cuma dari Orba, tapi dari kalangan underground yang sudah cukup lama menjalin hubungan distribusi Refleksi. Tak jelas alasannya, yang pasti jaringan kelompok undur-undur itu merasa eksistensinya terancam dengan artikel-artikel yang diterbitkan Refleksi. Perjalanan belum berakhir, Refleksi berganti jaket menjadi DIALOG. Kami pindah kantor, pindah pemodal. Kebetulan ada orang yang senang dengan Refleksi dan dia bersama kelompoknya mensupport penerbitan Refleksi baru dalam wujud DIALOG.
Berganti jubah ternyata makin menambah parah tekanan yang aku alami sebagai salah satu penggagas Refleksi. Rekayasa fitnah dan teror dirancang, para pelanggan diancam agar tidak membeli Dialog. Ada juga yang sirkulasinya diboikot : Majalah habis, uang tak dapat, hehehe… kelakuan paling bego yang pernah aku lihat dalam komunitas underground di Indonesia.

Tiap Edisi Punya Kenangan Sendiri….
Ini terbitan Refleksi dan Dialog yang sempat terselamatkan.
Refleksi versi Bijak dan versi Awal belum jelas terlacak
sehingga tak ada dokumentasinya.
end note :
Bagaimana kabar teman-teman mantan tim Refleksi & Dialog?
Berapa tahunkah kita tak pernah bertemu lagi?
Kontributor juga begitu, bagaimana Isevanovic, Hakim “si Rajal” Mazny dan Rofiq el-Mazny. Masih di Mesir/Malaysia/Sukabumi/Toples?
� Plz Kontak aku
Cihideung Forest, 28 Maret 2006



Dear, Oeban
Apa kabar kawan.
Ada goresan luka yang masih menganga
Ada nestapa diseberang asa
Kesadaran memang kadang terlambat
TETAP SEMANGAT DAN TERUS BERJUANG